Skip to main content.
Related sites:
More related sites: Gema Keselamatan Global Untuk Indonesia
Navigation: Home | About Us | Disclaimer | Archive | Global Information | CNS Room | Contact Us

APLIKASI STANDAR DAN REKOMENDASI KEAMANAN ORGANISASI PENERBANGAN SIPIL INTERNASIONAL (ICAO)

Standar dan Rekomendasi Keamanan ICAO.

Pada dasarnya semua standar maupun rekomendasi yang dikeluarkan oleh ICAO yang berpusat di Montreal adalah keputusan yang sumbernya berasal dari masukan 191 negara anggota (data tahun 2016) yang kemudian dibahas dalam Sidang Umum (General Assembly) yang diadakan 3 tahun sekali. Masukan tersebut akan menjadi bahan pembahasan perangkat ICAO melalui ANC, Air Transport Bureau (ATB) atau Legal. Masalah tentang keselamatan yang meliputi aspek navigasi, kelaikudaraan dan operasi pesawat akan dilanjutkan dan dibahas oleh Air Navigation Commisions (ANC). Masalah keamanan bandar udara akan dibahas oleh ATB. Akhirnya setelah melalui proses yang dapat memakan waktu beberapa tahun maka masukan tersebut akan menjadi sebuah keputusan dengan memiliki tenggang waktu transisi sampai dengan mulai diefektifkannya menjadi sebuah aturan yang bersifat standar dunia. Aturan yang demikian akan memiliki konsekuensi terhadap aspek hukum, ekonomi, social, politik dan hankam yang harus diberlakukan oleh sebuah negara anggota untuk memberikan pelayanan yang berkaitan dengan keselamatan penerbangan sipil (komersial) internasional, regional dan domestik.

Hasil keputusan dewan tersebut yang akhirnya akan diberlakukan secara internasional merupakan cermin aplikasi standar maupun rekomendasi yang berada diantara rentang minimum dan maksimum. Pengertian minimum disini adalah pelaksanaan standar yang masih sebatas standar minimum, sedangkan aplikasi maksimum adalah pelaksanaan yang sudah sepenuhnya mengikuti sebuah Standards and Recommended Practices (SARPs). Di beberapa Negara, ada beberapa rekomendasi dijadikan sebagai ketentuan yang bersifat mandatory.

Diharapkan, setiap negara anggota setelah memenuhi standar minimum juga terus meningkatkan aplikasinya untuk mencapai standar maksimum. Dalam hal ini Indonesia dapat melakukan partisipasi aktif dalam menyampaikan usulan saran dan solusi yang lebih baik untuk meningkatkan standar keselamatan dan keamanan yang telah ada, yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat. Walaupun peraturan yang diterapkan di sebuah negara masih berbeda dengan ketentuan ICAO, namun peraturan tersebut sekurang-kurangnya harus memenuhi standar ICAO (SARPS). Perbedaan aturan tersebut harus diumumkan oleh otoritas negara tersebut kepada seluruh otoritas di sebuah negara melalui sebuah publikasi yang disebut Aeronautical Information Publications (AIP). AIP adalah buletin informasi tentang semua hal yang berkaitan dengan operasional penerbangan dari sebuah negara dan dibuat dan dipublikasikan oleh CAA (DGAC). Ada AIP dari negara tertentu yang dapat diperoleh dengan mudah secara FoC (gratis melalui on-line), ada pula yang dengan cara diperjualbelikan. Publikasi ini kemudian saling dipertukarkan antar negara, terutama yang membutuhkannya.

Pengguna AIP bukan saja otoritas (CAA), namun dapat pula maskapai penerbangan asing, pengelola bandar udara, Air Traffic Service Provider atau Air Navigation Service Provider (ANSP), bahkan sebuah departemen dari pemerintahan tertentu. ANSP adalah badan usaha (dahulu, biasanya dimiliki sepenuhnya atau sebagian oleh negara) yang mengelola ruang udara dengan pemberian pelayanan navigasi penerbangan. Di beberapa negara, pengelolaan ruang udara semacam ini, kebanyakan masih dipegang oleh pemerintah, mengingat produk yang harus dihasilkan adalah keselamatan jiwa manusia yang berasal dari banyak negara. Masalah yang berkaitan dengan hukum udara dan hukum internasional menjadikan masalah ini lebih bersifat G to G (antar negara). Namun, kemajuan ekonomi dan teknologi di sebuah negara saat ini, lambat laun menjadikan ANSP dapat dikelola sepenuhnya secara efisien dan selamat oleh pihak swasta (private) di negara tersebut, di bawah pengawasan (oversight) dan pembinaan otoritas negara tersebut.

Pelaksanaan standar dan kemampuan melaksanakan rekomendasi peraturan ICAO menyebabkan beragam pula masalah yang menyangkut penanganan keselamatan dan keamanan disebuah bandar udara internasional yang satu dengan yang lain. Hal ini dapat dimaklumi, sepanjang ketentutan wajib (standar ICAO) yang berada dalam rentang minimum dan maksimum harus terpenuhi. Keadaan ini menunjukkan bahwa ICAO berdiri di antara kepentingan komunitas negara-negara maju, berkembang, dan yang masih belum maju (under developed countries). Aplikasi di negara-negara yang masih berkembang atau bahkan negara yang masih belum maju, pemenuhan SARPs ICAO tetap harus dilakukan, artinya ada negara yang baru bisa memenuhi standar di batas minimum yang sudah ditetapkan secara internasional. Untuk mengawasinya, secara berkala ICAO melakukan peninjauan ulang berbagai aplikasi standar dan rekomendasi yang menyangkut keselamatan dan keamanan penerbangan. Ada negara anggota yang telah, sedang atau akan bahkan belum memberlakukan SARPs ICAO tersebut. Program pengawasan (audit) tersebut dikenal sebagai ICAO Universal Safety Oversight Audit Programme (USOAP) untuk aspek keselamatan dan Universal Security Audit Programme (USAP), dari Aviation Security Audit Section (ASA) untuk aspek keamanan dan dipublikasikan secara terbuka keseluruh publik di dunia. Program USOAP memiliki 8 iterms penilaian dengan rentang angka 0% (sangat tidak efektif terhadap aplikasi SARPs) sampai angka tertinggi yaitu 100% (sangat efektif). Nilai audit dari sebuah negara dapat terlihat secara transparan oleh seluruh masyarakat di dunia, sehingga akan dapat diketahui apakah sudah berada di atas rata-rata dunia atau belum. Juga Anda dapat mengetahui negara mana yang sudah mendekati atau sudah mendapat nilai 100 (fully implemented), yang memiliki arti, keselamatan penerbangan di negara tersebut sudah sangat memenuhi kriteria penilai ICAO. Sedangkan bagi negara yang masih memiliki hasil nilai audit di bawah rata-rata dunia, berarti otoritas di negara tersebut belum melakukan implementasi keselamatannya dengan efektif. Dalam pelaporan kepada publik juga dicantumkan nilai rata-rata dunia yang merupakan nilai Implementation Effective, yang kemudian akan dijadikan batas dasar angka terendah dunia.

Dalam melaksanakan misi peningkatan keselamatan dan keamanan penerbangan sipil dunia, ICAO memerlukan kontribusi pemikiran dari berbagai sumber, baik dari ke-191 negara anggota, organisasi internasional serta para ahli dari industri penerbangan atau akademisi melalui proses yang akhirnya akan dirangkum dan diputuskan dalam keputusan dewan untuk menjadi SARPs. Kami sebagai pejabat yang pernah mewakili RI di ICAO yang merangkap selaku pejabat Atase Perhubungan di KBRI Ottawa saat itu senantiasa mengikuti banyak pertemuan, baik di Air Navigation Commissions (ANCs) maupun komisi yang lainnya serta mengikuti berbagai briefing dengan pihak industri maupun Council. Melalui keterwakilan negara, kegiatan rutin yang dilaksanakan ini merupakan salah satu bentuk upaya kegiatan dalam menjembatani semua kepentingan komunitas penerbangan di Indonesia melalui organisasi internasional ini. Diharapkan semua kegiatan ini dapat menjadi kontribusi nyata bagi peningkatan keselamatan dan keamanan penerbangan sipil di Indonesia. Briefing tentang penanggulangan keamanan bandar udara diadakan pada tanggal 18 April 2006, dengan menampilkan President and Chief Executive Officer (CEO) dari Canadian Air Transport Security Authority (CATSA) dan Co- Chairman US. Homeland Security Industries Association (HSIA).

Sidang Umum tiga tahunan ICAO selalu membahas berbagai international issues yang merupakan International Standards and Recommended Practices yang dilakukan oleh negara-negara anggota atau contracting states ICAO untuk kemudian dibahas dan diberlakukan ketentuan-ketentuan baru yang disempurnakan misalnya dalam Annex 17 the Convention on International Civil Aviation - Security: Safeguarding International Civil Aviation Against Acts of Unlawful Interference. Sidang yang dikenal dengan General Assembly akan menetapkan beberapa resolusi yang masukannya berasal dari semua pihak. Demikan dinamisnya upaya organisasi internasional ini yang pada gilirannya dapat terus meningkatkan kinerja otoritas keselamatan dan keamanan penerbangan sipil di seluruh dunia secara sinerji. Produk terkini ICAO adalah Annex 19 Safety Management yang diberlakukan sejak 2013. Terbitnya Annex ini merupakan "jawaban" kepada ANC ICAO atas HLSC 2010 rekomendasi 25/2. Mengingat website ini lebih mengkhususkan terhadap aspek keselamatan, maka seluruh isi artikel kami lebih didominasi oleh kandungan pencerahan yang bersifat keselamatan dunia. Untuk terbang selamat, Anda harus berupaya untuk mengetahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan keselamatan yang seutuhnya sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 1/Tahun 2009 Tentang Penerbangan. Salam Selamat Bangsaku.

Home