Skip to main content.
Related sites:
More related sites: Through www.indonesia-icao.org You will find the safest airlines...
Navigation: Home | About Us | Disclaimer | Global Information| CNS Room | Contact Us

Sekilas tentang Annex 2 - Rules of the Air

ANNEX 2 - to the Convention on International Civil Aviation

Rules of the Air

Pengantar:

Dalam Annex ini distandarkan berbagai peraturan tentang operasional penerbangan. Dua aturan utama dalam dunia penerbangan sipil adalah Visual Flight Rules (VFR) dan Instrument Flight Rules (IFR). Dibeberapa negara aturan utama tersebut telah berkembang sehingga bertambah menjadi Special Visual Flight Rules (SVFR), dan memiliki ragam batasan dari beberapa negara . SVFR tidak ditentukan atau ditawarkan oleh ATC, artinya dapat diijinkan atau tidak. SVFR merupakan bentuk pelayanan yang biasanya diminta oleh penerbang yang akan melakukan penerbangan dengan VFR di bawah kondisi VMC (visual meteorological condition) yaitu kondisi cuaca yang kurang baik secara visual.

Perjalanan dengan mempergunakan transportasi udara harus memenuhi dua syarat utama yakni selamat dan efisien. Kedua syarat tersebut mutlak harus dipenuhi oleh semua pihak yang terkait seperti regulator (otoritas penerbangan), operator, dan konsumen sendiri. Berdasar dua kata kunci tersebut, regulator dalam hal ini adalah pihak di jajaran pemerintahan sebuah negara yang paling penting dan bertanggungjawab sebagai pembina, pengatur, pengawas, pendorong (driver) baik untuk aspek teknis operasional maupun aspek ekonomi (sisi pengusahaan). Negara yang memiliki regulasi yang baik tidak akan efektif bila SDM nya tidak menjalankan tugas dan fungsinya sesuai dengan ketentuan yang sudah diberlakukan.

Air travel must be safe and efficient; this requires, among other things, a set of internationally agreed rules of the air. The rules developed by ICAO - which consist of general rules, visual flight rules and instrument flight rules contained in Annex 2 - apply without exception over the high seas, and over national territories to the extent that they do not conflict with the rules of the State being overflown.

The pilot-in-command of an aircraft is responsible for compliance with the rules of the air. An aircraft must be flown in accordance with the general rules and either the visual flight rules (VFR) or the instrument flight rules (IFR). Flight in accordance with visual flight rules is permitted if a flight crew is able to remain clear of clouds by a distance of at least 1 500 m horizontally and at least 300 m (1 000 ft) vertically and to maintain a forward visibility of at least 8 km. For flights in some portions of the airspace and at low altitudes, and for helicopters, the requirements are less stringent. An aircraft cannot be flown under VFR at night or above 6 100 m (20 000 ft) except by special permission.

Balloons are classified as aircraft, but unmanned free balloons can be flown only under specified conditions detailed in the Annex.

Instrument flight rules must be complied with in weather conditions other than those mentioned above. A State may also require that they be applied in designated airspaces regardless of weather conditions, or a pilot may choose to apply them even if the weather is good. Most airliners fly under IFR at all times.

Depending upon the type of airspace, these aircraft are provided with air traffic control service, air traffic advisory service or flight information service regardless of weather conditions.

To fly under IFR, an aircraft must be equipped with suitable instruments and navigation equipment appropriate to the route to be flown. When operating under air traffic control the aircraft must maintain precisely the route and altitude that have been assigned to it and keep air traffic control informed about its position.

A flight plan must be filed with air traffic services units for all flights that will cross international borders, and for most other flights that are engaged in commercial operations. The flight plan provides information on the aircraft's identity and equipment, the point and time of departure, the route and altitude to be flown, the destination and estimated time of arrival, and the alternate airport to be used should landing at destination be impossible. The flight plan must also specify whether the flight will be carried out under visual or instrument flight rules.

Regardless of the type of flight plan, the pilots are responsible for avoiding collisions when in visual flight conditions, in accordance with the principle of see-and-avoid. However, flights operating under IFR are either kept separated by air traffic control units or provided with collision hazard information. Right-of-way rules in the air are similar to those on the surface, but, as aircraft operate in three dimensions, some additional rules are required. When two aircraft are converging at approximately the same level, the aircraft on the right has the right of way except that aeroplanes must give way to airships, gliders and balloons, and to aircraft which are towing objects. An aircraft which is being overtaken has the right of way and the overtaking aircraft must remain clear by altering heading to the right. When two aircraft are approaching each other head on they must both alter heading to the right.

As interceptions of civil aircraft are, in all cases, potentially hazardous, the Council of ICAO has formulated special recommendations in Annex 2 which States are urged to implement through appropriate regulatory and administrative action. These special recommendations are contained in Attachment A to the Annex All these rules, when complied with by all concerned, help make for safe and efficient flight.

Sumber: Annex 2 ICAO, Rules of the Air

Home

Konperensi "DGCA on a Global Strategy for Aviation Safety" di ICAO

Konperensi Direktur Jenderal Penerbangan Sipil dari Negara-Negara Anggota ICAO di Montreal, 20 - 22 Maret 2006
Konperensi ini dihadiri oleh wakil dari 152 negara anggota ICAO dan dari 26 organisasi internasional, dengan total mencapai 526 orang peserta, termasuk 7 wakil dari Indonesia dan 3 orang dari perwakilan RI di Kanada.

Materi pembahasan di sidang DGCA ini antara lain meliputi:

  1. Keselamatan Penerbangan Secara Umum;
  2. Peningkatan Keselamatan Penerbangan oleh Negara-Negara Anggota;
  3. Global Aviation Safety Roadmap ICAO;
  4. Transparansi dan Sharing Informasi;
  5. Penegakan Konsep Keadilan;
Selanjutnya... »

Sidang ANC di ICAO (2)

HASIL SIDANG DEWAN DAN ANC 16-20 JANUARI 2006
Berikut ini kami sampaikan secara singkat ringkasan hasil beberapa sidang Dewan yang diselenggarakan oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional ICAO dalam sidang ANC ke-177 di Montreal.

Materi pembahasan di sidang Air Navigation Commissions meliputi:

  1. Program kerja sesi ke-171 ANC;
  2. Final review of proposed amendments to Annex 6, Parts I and III; dan
  3. Amendment to the Global Air Navigation Plan for CNSI ATM Systems (Doc. 9750);
Ringkasan Pembahasan

Sidang ANC 17-20 Januari 2006 merupakan sidang pertama dalam mengawali rangkaian berkelanjutan program pembahasan sesi ke-171 ANC masa sidang 2006 - 2007.

Pembahasan secara berturut-turut menitikberatkan pada Kertas Kerja AN WP/8091, AN WP/8089 dan AN-WP/8085. Sesi ke-171 ANC dirancang untuk membahas tugas yang sebagian besar merupakan kelanjutan sesi ke-170 sebagai berikut:

Selanjutnya... »

Sidang ANC di ICAO (1)

KEIKUTSERTAAN PADA SIDANG DEWAN DAN ANC 12-14 OKTOBER 2005
Berikut ini kami sampaikan beberapa hasil sidang Dewan yang diselenggarakan oleh ICAO Organisasi Penerbangan Sipil Internasional dalam sidang tahunannya di Montreal serta briefing oleh ANC, yang dihadiri oleh 15 member dan 20 orang peserta serta team Air Navigation Bureau.

Tanggal 12 Oktober briefing dari ANC dengan forum secara informal. Topik bahasan adalah GRAS, dan sistem augmentation lainnya. Penyajinya adalah Dr. Keith McPherson dari Airservices Australia.

Tanggal 13 Oktober briefing dari team Air Navigaion Bureau tentang analisa PIRGs dalam mencermati perkembangan dan penggunaan peralatan berteknologi maju serta membandingkan aplikasi negara-negara di dunia dalam implementasinya.

Tanggal 14 Oktober briefing dari Chief Security Audit Programme.

Selanjutnya... »

Dangerous Goods Panel

Panel Dangerous Goods Dilaksanakan di ICAO HQ Montreal dari 24 OKTOBER - 4 NOPEMBER 2005.
Pertemuan ini merupakan kegiatan berkelanjutan yang diikuti oleh semua anggota panel DG yang berjumlah 17 orang yang berasal dari wakil 15 Negara dan 2 organisasi international yaitu IATA dan IFALPA. Selain anggota panel DGP ke 20 ini juga diikuti oleh advisers dan observers sehingga total peserta mencapai 89 orang. DGP ke-20 ini merupakan kelanjutan DGP ke-19 yang diadakan di Montreal pada tanggal 27 Oktober -7 November 2005.

Topik yang dibahas antara lain berupa hasil temuan para experts dan finding dari packing group I/II/III. Peserta Panel yang terdiri dari para experts, pejabat dari Ministry of Transport, wakil dari Airport Authority, Airlines serta perseorangan, menyampaikan tanggapan melalui beberapa Working Paper dan Information Paper. Jumlah WP (Working Paper) yang dibahas dalam 10 hari pertemuan tersebut adalah sebanyak 90 (sembilan puluh).

Organisasi internasional yang hadir dalam pertemuan ini adalah antara lain dari IATA, IFALPA, IEA, US Fuel Cell Council (USFCC), Japan Electrical Manufacturers Association (JEMA), International Electrotechnical Commission (IEC), Task for Reformed Methanol Fuel Cell Safety, International Transportation Regulators and Advisors, dan Dangerous Goods Advisory Office.

Selanjutnya... »

Sekilas Info dari IATA: Fuel Consumptions

IATA (International Air Transport Associations) yang berkantor pusat di Montreal melalui hasil surveinya telah memberikan informasi tentang penghematan penggunaan bahan bakar pesawat terbang untuk kegiatan komersial yang juga akan sejalan dengan penggunaan bahan bakar yang ramah dengan lingkungan.

Menurut IATA, dalam satu tahun terdapat lebih kurang 30 juta penerbangan komersial berjadwal di seluruh dunia. Rata-rata lama penerbangan tersebut berkisar 1 jam 37 menit. Biaya operasi per menit dari masing-masing operator tersebut rata-rata adalah US$100. Jadi dengan asumsi bila terjadi pengurangan waktu penerbangan 1% saja atau sekitar 1 menit akan diperoleh penghematan biaya bahan bakar sebesar US$3,000,000,000.00 pertahun.

Pengamatan lainnya yang dilakukan oleh IATA sehubungan dengan pengurangan penggunaan bahan bakar pesawat adalah penelitian pada rute yang menghubungkan benua Amerika termasuk Canada (North America) dengan Asia di Timur Jauh seperti Singapore, Hong Kong atau Beijing dan Taipeh.

Titik keberangkatan adalah ORD (Chicago) dan titik tujuan adalah HKG (Hong Kong). Rute internasional yang menghubungkan ORD-HKG ada 6 internasional air route yaitu Polar Route: 1,2,3 dan 4 serta Conventional Routes: Red 220 (R220) dan Amber 218 (A218). Selanjutnya apabila dibandingkan keenam rute tersebut maka akan diperoleh nilai yang paling ekonomis dalam penerbangan komersial antara kedua bandar udara tersebut adalah Polar Route 3 yang hanya memakan waktu tempuh selama 14:22 (14 jam 22 menit) dengan mengangkut penumpang sebanyak 347+ (termasuk awak pesawat). Sedangkan waktu yang paling tidak ekonomis adalah melaui R220 yang memakan waktu tempuh 16:15 dengan hanya kapasitas 54 penumpang.

Sekarang, bagaimana pengelolaan penghematan penggunaan bahan bakar di Indonesia? Penggunaan bahan bakar yang kini telah mancapai 20% dari total cost, menjadikan masalah yang paling penting dalam industri penerbangan. Untuk itu marilah kita memikirkan bersama bagaimana untuk mengatasinya. Kami sudah membentuk jaringan kerja dengan IATA HQ tentang masalah ini, jadi sekiranya ada yang berminat untuk mempelajari lebih lanjut tentang Reducing Fuel Consumption Management, kami dengan senang hati akan memfasilitasinya.

Polar Route memang diakui merupakan airways yang memiliki nilai ekonomi paling tinggi untuk menghubungkan tempat-tempat di Benua Amerika, termasuk North America (Canada) dengan bandar udara di Asia Timur Jauh seperti Singapore, Hong Kong dan daratan China. Saat ini salah satu pengguna Polar Route adalah Singapore Airlines yang menyatakan sebagai maskapai penerbangan komersial yang melakukan penerbangan nonstop terjauh yang menjelajah dari point of departure Newark, NJ menuju Changi, Singapore dengan total waktu jam penerbangan nonstop selama 17 jam 30 menit (pengaruh tail wind) dan bahkan 18 jam lebih karena pengaruh head wind.

(Sumber dari ICAO dan IATA)

Home